Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

04 Juni 2009

"Bunda, bola mata tasya warnanya kok hitam ? kenapa nggak biru seperti orang barat atau coklat seperti bunda ?" begitulah pertanyaan tasya disuatu hari ketika aku sedang duduk sambil asyik membaca koran. Wah..wah... ada apa ini ? setelah aku tanya ke tasya kenapa dia ingin memiliki mata berwarna biru, dia menjawab " Tasya tuh ingin seperti Molly ( teman mainnya yang kebetulan berkebangsaan Australia dan rumahnya berdekatan dengan rumahku ) Mata Molly bagus... seperti mata boneka, rambutnya juga pirang seperti rambut boneka barbie tasya". Sedangkan tasya jelek, matanya hitam, rambut juga hitam kemerahan dan kulit tasya nggak putih seperti kulit Molly.

Aku langsung menjawab, "Ah, Tasya sudah cantik kok, nggak perlu bermata biru atau berambut pirang seperti Molly. Karena kita diciptakan oleh Allah memang berbeda, dan semua itu adalah karunia dari Allah untuk semua manusia. Kita harus bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita sekarang, karena itulah yang terbaik untuk kita."


Dari kejadian tersebut, dapat kita lihat bahwa anak yang sudah masuk usia remaja, bila mereka merasa kurang cantik ataupun kurang menarik, mereka akan menjadi minder bahkan bila kita biarkan akan bisa sampai dalam taraf memprihatinkan.

Apalagi kondisi masa kini dimana citra remaja dibuat seolah-olah seluruhnya cantik, menarik berprestasi unggul, kaya dan sebagainya. Bayangan perfect seperti itu kadang bisa membuat si remaja putri stres. Terbentuklah sifat-sifat yang tidak diinginkan seperti menjadi konsumtif tiba-tiba karena ingin mempunyai segala hal yang dimiliki temannya.

Tentu kita sebagai orangtua tak tega melihat putri kita mengikuti arus seperti itu. Karenanya sebagai orangtua, kita harus rajin-rajinlah mendampingi dan menguatkan batinnya hingga tak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang tak terlalu penting untuk dicapai.

Prestasi yang terbaik adalah dengan menjadi seseorang yang berguna dan berarti bagi orang lain. Dengan menjadi seseorang yang dibutuhkan maka segala hal menjadi tak sia-sia.

04 Maret 2009

Mungkin kamu pernah mendengar atau mengalami kenakalan anak yang diakibatkan salah dalam memilih teman. Anak kamu mungkin berpendapat bahwa temannya biasa-biasa saja dan tidak mengganggu dirinya.

Memang anak yang tidak mau mengikuti aturan atau senang menyakiti perasaan teman lainnya, sering kali di permasalahkan oleh orang tua temannya. Terkadang orang tua langsung melarang atau bahkan mendiamkannya dengan harapan anaknya akan baik-baik saja.

Saat anak duduk di bangku sekolah dasar, mereka sudah mempunyai kesukaan yang pasti dan ingin bermain serta bersahabat dengan semua anak. Dari segi perkembangan, anak akan memilih mana yang sebenarnya temannya. Jika kamu tidak suka karena cara berpakaiannya, prilakunya atau karena latar belakang orang tuanya, sebaiknya diamkan saja.


Dengan begitu emosional dapat berkembang dan memiliki teman yang berbeda-beda dilihat dari lingkungannya. Tapi jika persahabatan tersebut membahayakan anak, maka orang tua harus mencari jalan untuk ikut campur. Hal tersebut dapat kamu lihat dengan memperhatikan prilakunya.
Bila anak tampak tidak bahagia sesudah bermain dengan anak tersebut, maka anda patut mencurigainya. Karena pada umumnya anak akan bersemangat dan gembira sesudah bermain dengan temannya, bukan jadi murung dan sedih.
Anak usia sekolah dasar sering meniru gaya anak lain, tetapi jika kepribadian si kecil mendadak menjadi berubah sebaiknya pelajari apa penyebabnya. Jadi jika anak yang biasanya penurut atau kooperatif mendadak berubah menjadi provokatif, kemungkinan si kecil mendapat pengaruh negatif dari temannya. Jika anak yang biasanya rajin jadi mendadak tidak mau mengerjakan PR atau memperhatikan tugas sekolah, kemungkinan itu disebabkan anak menerapkan sisi negatif dari temannya.
Katakan dengan jujur kalau kamu memang merasa hubungan anak dan temannya itu berbahaya dan jelaskan alasannya. Tapi untuk anak berusia di atas 8-9 tahun, melarangnya berteman bisa menjadi bumerang bagi kamu. Karena mereka memiliki sejumlah kebebasan. Meskipun kamu melarang persahabatan tersebut, mereka mungkin masih duduk bersebelahan di kelasnya.
Siasatilah dengan mengundangnya untuk datang ke rumah, sehingga kamu isa mengatur dan mengawasinya. Buatlah rumah kamu menjadi tempat yang menyenangkan sehingga anak senang main ke rumah kamu.
Tegaskan bahwa di rumah kamu, si teman harus mematuhi aturan-aturan tertentu. Puji mereka jika mematuhi peraturan, sehingga kamu dapat melatih anak mempunyai sisi positif dan dapat mempengaruhi anak lainnya ketimbang si kecil dipengaruhi negatif.
Jika mereka menemui teman baru yang mempunyai minat atau kesenangan yang sama dengannya, pandangan hidup yang sama, maka akan mengalahkan persahabatan lama. Jika diberi pilihan, kebanyakan anak akan memilih untuk tidak meneruskan persahabatan yang merusak. Anak akan merasakan dengan sendirinya, sehingga dia akan memilih teman mana yang lebih menyenangkan untuk bermain dan belajar. */pdc

26 Desember 2008

Cerita ini berdasarkan pengalaman saya sewaktu pergi ke acara pernikahan salah satu teman. Disana sudah banyak tamu yang hadir dan sebagian besar adalah ibu-ibu yang membawa serta anak balita mereka ke acara tersebut. Selama mengikuti acara, beberapa ibu2 duduk diluar sambil memangku anaknya sambil ngobrol dan tertawa cekikikan bersama ibu2 lainnya.

Nggak terasa hari sudah semakin siang dan acara masih belum juga selesai, si ibu masih tetap asyik ngobrol, tapi nggak demikian dengan sang anak. Mungkin karena sudah merasa capek dan mengantuk, seorang bocah lelaki berusia sekitar 3 tahun, mulai merengek dengan sang ibu minta segera pulang. Mungkin karena acara belum selesai dan juga masih asyik ngobrol dengan temannya, sang ibu bukan membujuk anaknya, tetapi malah memarahi si anak sambil berkata dengan nada membentak menyuruh si anak agar diam. Demi melihat reaksi sang ibu seperti itu si anak bukannya diam, tetapi makin bertambah keras tangisannya, sehingga terdengar oleh semua tamu undangan yang ada di dalam rumah.

Selanjutnya sang ibu yang mulai kelihatan tidak sabar dengan tingkah anaknya, lantas mencubiti anaknya dengan maksud agar si anak diam, duhhh....!!! terang aja tangisan si anak tambah menjadi2. Melihat hal ini sang ibu tiba2 langsung mengambil sesuatu dari dalam tasnya yaitu sepotong handuk kecil lalu membekap mulut si anak dengan maksud supaya suara tangisan si anak dapat diredam sehingga tidak mengganggu jalannya proses acara. Ujung2nya si anak jadi nggak bisa bernafas dengan leluasa, dan memberontak sambil berteriak2.

Masih diwaktu yang sama, tiba2 ada lagi seorang anak balita perempuan berusia sekitar 4 tahunan yg duduk didepan saya menunjukan sikap yang sama dengan bocah yang dibekap oleh ibunya tadi. Anak tersebut mulai rewel karena sudah merasa capek dan bosan. Tapi lagi2, sang ibu yang satu ini pun menunjukkan reaksi yang sama seperti ibu tadi. Anaknya malah dicubiti dan dibentak supaya diam. Sang anak yang mungkin karena sudah merasa mengantuk terus saja menangis sambil membuka kedua tangannya ingin memeluk sang ibu.

Tapi sayangnya friend, saat tangan si anak ingin memeluk sang ibu, bukannya si ibu memeluk si anak, tetapi malah menepis tangan si anak dengan keras sambil berkata dalam bentuk bentakan, "jangan peluk mama, kalo nggak mau diam..!!! ". Sambil menahan tangis, sang anak terus saja maju ingin memeluk ibunya. Lagi2 si ibu menepis sambil setengah mendorong anak sekecil itu untuk menjauh dari dirinya sambil berkata " Diam... !!!, duduk sana jauh-jauh, jangan peluk mama, kalau masih menangis..!!! Ayo diam dulu..!!" jawab ibu itu lagi. Si anak yang telah diperlakukan seperti itu oleh sang ibu, menahan tangisannya sambil menggigit bibirnya kuat2. Seketika hati kecil saya menjerit, " Ya Allah, tuh ibu tega banget sih sama anaknya ????" Nggak terasa air mata saya keluar, karena benar2 gak tega banget melihat raut wajah polos si anak yang terluka dan sedih, mendengar isak tangis yang tersendat2 dan setengah ditahan karena rasa takut , mana sang ibu terus mengacuhkan anaknya. Duuuuhh.......!!!

Dari kejadian diatas, dapat kita lihat bahwa, seburuk apapun dan sekasar apapun perlakuan sang ibu terhadap anaknya yang masih balita itu, tidak membuat sang anak lantas membenci dan menjauh dari ibunya, seperti contoh tadi, meski terus dibentak, dicubit dan ditolak oleh ibunya, si anak tetap aja ingin memeluk ibunya. Karena yang dia tahu bahwa sosok ibu adalah tempat ia bernaung, tempat ia berlindung, tempat ia mendapatkan kasih sayang, serta tempat ia mendapatkan rasa aman dan nyaman. Hanya saja yang sangat disayangkan adalah sikap sang ibu yang begitu tidak sabar dan tidak bijak sehingga tega berbuat kasar terhadap anaknya sendiri. Padahal Allah telah menjadikan wanita itu sebagai sosok yang memiliki sifat lembut dan penyayang sehingga sang anak bisa merasa tenang, aman dan damai didalam asuhan ibunya.

10 November 2008

Sebagian anak ada yang memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi terhadap sesuatu yang ada disekelilingnya. Anak banyak bertanya tentang ini dan itu. Bahkan terkadang anak bertanya tentang sesuatu yang sulit orangtua untuk menjawabnya.
Misalnya, Bu, kok bisa ada ade bayi di dalam perut ibu, dari mana asalnya adek bayi itu, Bu?

Dari rasa ingin tahu anak tersebut maka tak salah bila ia banyak bertanya. Sebagian ada orangtua yang tidak senang dengan sikap anak yang banyak bertanya. Orangtua seperti itu biasanya menghindar atau bahkan melarang anak banyak bertanya. Orangtua tersebut menganggap bahwa pertanyaannya tidak penting untuk dijawab.

Sikap orangtua di atas tentu akan membuat anak merasa bertambah bingung. Mungkin saja anak tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi dari orangtuanya. Tetapi, rasa ingin tahu yang membuatnya bingung bisa saja mendorong anak bertanya kepada orang lain selain orangtuanya. Keadaan ini akan membahayakan anak jika ia ternyata bertanya kepada orang yang tidak tepat. Boleh jadi jawaban yang ia terima adalah jawaban yang dapat merusak fikirannya.

Oleh karena itu, adalah orangtua bijak apabila dapat meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan anak. Ada beberapa hal yang perlu orangtua perhatikan ketika menanggapi pertanyaan anak.

Berusahalah untuk tidak mengelak pada pertanyaan anak dengan cara apa pun karena hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya justru menambah rumit. Anak akan terus berusaha menanyakan masalah yang membingungkannya tersebut jika ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan yang sesuai dengan tingkat berfikirnya.

Hindarkan berkata kepada anak, Kamu masih kecil, kalau sudah besar nanti kamu akan tahu jawaban pertanyaanmu itu’. Pertanyaan seperti ini tidak menenangkan anak, namun justru membuat ia semakin bingung. Hal yang difahami dari ucapan itu adalah bahwa orangtuanya tidak mau menjawab pertanyaannya karena suatu hal. Tindakan seperti itu akan menambah kebingungan dalam benak sang anak.

Ketika menjawab pertanyaan anak, jawablah dengan terang dan jelas sesuai dengan taraf berfikirnya, tidak menjawab suatu pertanyaan anak dengan jawaban yang terlalu luas sehingga anak tidak faham. Hindarkan memberi jawaban yang jauh dari kenyataan agar ia tidak merekam pemahaman yang salah.

23 Oktober 2008

Dapat diperkirakan bahwa dalam sepekan seorang anak didik (pelajar) hanya berada di lingkungan sekolah lebih kurang 39 jam. Selebihnya, atau kurang lebih 129 jam (169 jam sepekan dikurangi jam belajar di sekolah), seorang anak berada dipangkuan dan dalam proses pendidikan keluarganya.

Realitas ini secara langsung memberikan gambaran, bahwa proses belajar seorang anak lebih banyak di jalani dengan guru dalam keluarga (masyarakat sekitarnya lebih cenderung tidak dapat lagi ditempatkan sebagai guru dalam arti yang konkret). Dalam keluarga, anak akan belajar berbagai hal dan kebanyakan bersifat praktis (non teoritis) dan bentuk dukungan terhadap proses pembelajaran teoritis yang umumnya diperoleh anak dari sekolah.

Sekalipun dalam keluarga anak tidak langsung berhadapan dengan seorang guru sebagaimana halnya di sekolah, guru-orangtua berfungsi dan berperan sebagai pusat sumber lahirnya mitivasi belajar anak ( aspek intelektual ) dan post identifikasi aspek keteladanan untuk bekal moral kehidupannya. Untuk aspek terakhir ini, terdidik memang tidak langsung berhadapan dengan pendidik, tapi berlangsung proses belajar di dalamnya.

Kejelasan ini ditemukan dari kenyataan bahwa sesungguhnya anak belajar dari orangtuanya, sehingga dengan demikian, orangtua juga merupakan guru bagi seorang anak. Pengajaran orang tua merupakan awal dan kelanjutan proses belajar yang telah diupayakan pada guru di sekolah, yang lebih banyak pada bentuk kontak formal dan lebih menekankan pada intellectual-oriented.

Dalam keluarga, di samping mempertajam intelektual dimaksud, seorang anak juga belajar value (nilai) berupa sopan santun, cara hidup bermasyarakat, dan segala sesuatu lainnya yang berkaitan dengan aspek moralitas.

Aspek-aspek yang demikian ini tidak begitu tegas dapat diperoleh anak di sekolah, karena dominannya kontak formal yang begitu terarah pada aspek kognitif. Selain itu, peluangnya memang begitu besar diperoleh keluarga sesuai lamanya waktu yang dijalani anak di luar sekolah.

17 Oktober 2008

Suatu saat, seorang ayah bertanya pada anak sulungnya, Nak..tahukah kamu kenapa kamu lebih dulu dilahirkan dibandingkan adik-adikmu? Si anak diam walaupun banyak hal yang terlintas dipikirannya. Si Ayah pun tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya. Ia menunggu dan membiarkan anaknya menemukan sendiri jawabannya...

Anak sulung memang biasanya menikmati posisi istimewa dalam keluarga. Boleh dibilang, ia memiliki segalanya, status sebagai yang tertua, perhatian dan kasih sayang penuh dari orang tua, serta memperoleh pengalaman-pengalaman mengasyikkan yang mungkin tidak dinikmati adik-adiknya. Namun ada kalanya posisi sebagai sulung, membuat seorang anak memiliki beban mental yang berat.

Banyak orang tua terlalu memberikan banyak beban pada anak sulungnya. Mulai dari penanaman kedisiplinan, norma-norma tertentu, hingga soal tanggung jawab terhadap adik-adiknya.

Pemberian beban yang berlebihan ini tidak sedikit yang menimbulkan beban psikologis pada anak sulung. Terlebih bila mereka tidak bisa mewujudkan harapan orangtuanya.
Di antara anak dalam suatu keluarga, anak sulung memang menempati posisi yang istimewa. Kelahirannya biasanya sangat ditunggu-tunggu oleh kedua orang tuanya. Juga oleh kakek neneknya, apalagi kalau ia merupakan cucu pertama dalam keluarga. Ia bisa memiliki segalanya, mulai dari status anak sulung, perhatian serta kasih sayang penuh dari orangtua dan orang sekitarnya.

Hubungan anak sulung dengan orang tuanya sangat istimewa dan unik, penuh dengan keajaiban, kesenangan, kecemasan serta perasaan yang begitu kompleks. Dalam beberapa hal orang tua belajar untuk mengatasi persoalan anak bersamaan dengan pertumbuhan anak sulungnya.

Sikap orang tua terhadap anak sulung mulai berubah ketika adiknya lahir. Sedikit banyak perhatian mereka mulai beralih ke bayi yang baru lahir. Perubahan ini tentu kurang menyenangkan bagi anak sulung yang selama in menikmati hak-hak istimewanya.

Karena itu tidak sedikit anak sulung yang bersikap ‘benci’ setengah mati pada adiknya yang dianggap telah merebut perhatian orang tua mereka.
Untuk mengatasi hal tersebut, orang tua harus jauh-jauh hari mempersiapkan mental anak untuk menghadapi kelahiran adiknya. Berkurangnya perhatian dan sikap orang tua yang mulai berubah, serta banyak tuntutan untuk si sulung. Hal tersebut dilakukan semata-mata hanya untuk memberi contoh yang baik kepada adik-adiknya.

Hal ini jelas menimbulkan beban psikologis tersendiri pada sang anak. Semoga saja sulung anda dapat memenuhi semua harapan orang tua. Tetapi jangan kecewa bilang anak tidak berhasil, karena anak pun akan merasa bersalah. Keadaan seperti itu membuat anak sulung memiliki sifat lebih serius, disiplin dan bekerja keras daripada adiknya.
Jadi, alangkah baiknya jika tanggung jawab, kesempatan, dan hak yang diberikan pada setiap anak dalam keluarga diberikan secara proporsional dan adil. Sehingga setiap potensi yang ada dalam keluarga dapat berkembang optimal.

15 Oktober 2008

Berikut beberapa tips yang dapat anda lakukan untuk memberikan pendidikan seks kepada anak-anak.

Pertama, berbicaralah dengan cara yang wajar, seperti berbicara tentang hal yang lain.

Kedua, hindari gaya seperti mengajar di sekolah.

Ketiga, pembicaraan hendaknya tidak hanya terbatas pada fakta biologis, tetapi juga tentang nilai, emosi, dan jiwa.

Keempat, jangan khawatir anda telah menjawab terlalu banyak terhadap pertanyaan anak. Mereka akan selalu bertanya tentang apa yang mereka tidak mengerti.

Kelima, anak-anak usia prasekolah juga perlu tahu bagaimana melindungi diri dari penyimpangan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang dewasa. Ini berarti orang tua harus memberitahu anak bahwa mengatakan "tidak" kepada orang dewasa bukanlah sesuatu yang dilarang.

Selanjutnya, jangan menunggu sampai anak mencapai usia belasan tahun untuk berbicara tentang masa pubertas. Mereka harus sudah mengetahui perubahan yang terjadi pada masa sebelumnya. Berilah suasana dan kesempatan agar anak merasa bebas dan aman mengajukan pertanyaan tentang seksualitas.

Setelah berbicara atau menjawab pertanyaan anak, ujilah apakah jawaban itu memang telah dimengerti. Berilah kesempatan kepada anak untuk menanyakan lagi kalau kemudian muncul pertanyaan baru. Kehidupan seksual orang tua sangat diperlukan sebagai contoh nyata bagi anak ketika berbicara tentang seksualitas. Lengkapi diri anda dengan pengetahuan terbaru.

Lengkapi pula pengetahuan anda dengan mempelajari masalah anatomi, fisiologi, biologi, moral, dan etika. Jangan salahkan kemajuan teknologi. Tanamkan nilai-nilai moral dan dampingi saat mereka mengakses internet.

Anak juga perlu diberi batasan-batasan soal pemanfaatan teknologi, misalnya mengakses internet hanya untuk mengerjakan tugas sekolah. Jika membekali anak dengan telepon genggam, pantaulah mereka sehingga anda mengetahui semua aktivitas mereka. Tempatkan komputer di ruang keluarga dan bukan di ruang pribadi. Tanamkan rasa tanggung jawab pada si kecil. Beri pengertian bahwa tiap perbuatan, termasuk soal seks, selalu ada risiko dan tanggung jawab yang harus dipikulnya.

10 Mei 2008

Perkembangan kecerdasan anak yang sangat pesat terjadi sejak anak baru lahir sampai usia lima tahun, sehingga hampir 50 persen potensi kecerdasan anak sudah terbentuk pada usia empat tahun. Kemudian secara bertahap mencapai 80 persen pada usia delapan tahun.

Kreativitas anak mulai meningkat pada usia tiga tahun dan mencapai puncaknya pada usia empat setengah tahun. Kreativitas anak akan menurun apabila tidak diupayakan perkembangan potensi kecerdasannya. Data-data ini merupakan hasil penelitian ahli perkembangan anak dari Universitas Georgia Amerika Serikat, Dr Keith Osborn.

Pakar psikologi anak Dr Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto juga pernah menyatakan bahwa usia balita merupakan masa penting bagi perkembangan potensi seseorang, termasuk rasa percaya dirinya.

Perkembangan potensi anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, karena anak akan dengan cepat menirukan dan belajar dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan.

Dengan demikian merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, tempat anak tumbuh dengan nyaman, sehingga dapat memancing keluar potensi dirinya, kecerdasan dan percaya diri. Disamping itu orangtua perlu memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap.

Pada masa-masa penting pertumbuhan tersebut, anak memerlukan asupan makanan bergizi yang cukup, disertai kasih sayang dan perhatian orangtua. Kesemuanya ini berguna untuk akan menunjang pertumbuhan otak dan cara berpikir anak.

Dari hasil penelitian, ternyata kecerdasan anak tidak dapat tumbuh dengan sendirinya, tetapi harus dirangsang. Misal, untuk mengembangkan kemampuan berbahasa pada seorang anak, misalnya, maka orangtua harus rajin menjalin percakapan dengan sang anak. Saat anak masih bayi, tetaplah mengajaknya berbicara dengan suara yang halus, meski anak belum mengerti.

Menurut pendapat Kak Seto, anak dapat dirangsang untuk mengembangkan daya imajinasinya, dengan mendengarkan dongeng dari ibunya. Misalnya, dari dongeng yang didengar, anak akan membayangkan peri cantik yang baik hati atau kancil yang cerdik. Kemudian secara tidak langsung anak juga dapat diajak untuk melontarkan gagasannya pada satu masalah. Orangtua perlu membiasakan melibatkan anak dalam pengambilan keputusan, khususnya menyangkut kepentingan dirinya sendiri, misalnya menentukan makanan dan pakaian yang disukai, serta mengajak anak untuk mengomentari berbagai peristiwa, akan memacu anak untuk terus berpikir mengembangkan gagasannya.

Sejak usia dini, anak juga sudah dapat diperkenalkan pada kegiatan membaca dan menulis. Misalnya dengan cara membuat tulisan nama benda pada karton dan menempelkan tulisan tersebut pada benda yang dimaksud. Ini dapat merangsang daya ingat anak terhadap benda tersebut sekaligus memperkenalkan anak akan bentuk huruf dan tulisan. Untuk memacu kemampuan dasar matematika, anak dapat diperkenalkan pada konsep matematika secara sederhana, misalnya menghitung jumlah anak tangga, menghitung panjang meja dengan jengkal si anak, mengukur tinggi dan berat badannya sendiri.

Kegiatan dalam mengembangkan potensi kecerdasan anak hendaknya dilakukan dengan cara bermain, sehingga anak merasakan sebagai kreativitas yang menyenangkan. Jangan sampai anak merasa dipaksa harus belajar menulis, membaca, dan belajar berhitung. Orangtua harus dapat menciptakan suasana bermain yang dapat menumbuhkan hasrat ingin tahu yang besar serta kemampuan logika yang baik. Selain itu, anak harus dapat perasaannya dengan bebas, seperti rasa marah, sedih, takut, dan kecewa dalam keadaan wajar. Orangtua harus dapat berperan sebagai teman serta mendengarkannya, bukan justru semakin menyudutkan sang anak.

Peran orangtua yang berkualitas dalam mengembangkan kecerdasan dan perkembangan emosi anak secara bertahap, akan mendorong potensi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemampuan kecerdasan yang yang tinggi, pengendalian emosi yang baik, serta kuat mental spiritualnya.

07 Mei 2008

Menyimak tulisannya Dewi Utama Faizah, "Anak-Anak Karbitan" yang pada saat menulis, bekerja di Direktorat pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesian Heritage Foundation.

Munurutnya, anak-anak yang digegas menjadi cepat mekar, cepat matang, akan cepat layu... Pendidikan bagi anak usia dini sekarang tengah marak-maraknya. Dimana-mana orang tua merasakan pentingnya mendidik anak melalui lembaga persekolahan yang ada. Mereka pun berlomba untuk memberikan anak-anak mereka pelayanan pendidikan yang baik. Taman kanak-kanak pun berdiri dengan berbagai rupa, di kota hingga ke desa.

Kursus-kursus kilat untuk anak-anak pun juga bertaburan di berbagai tempat. Tawaran berbagai macam bentuk pendidikan ini amat beragam. Mulai dari yang puluhan ribu hingga jutaan rupiah per bulannya. Dari kursus yang dapat membuat otak anak cerdas dan pintar berhitung, cakap berbagai bahasa, hingga fisik kuat dan sehat melalui kegiatan menari, main musik dan berenang. Dunia pendidikan saat ini betul-betul penuh dengan denyut kegairahan. Penuh tawaran yang menggiurkan para orangtua .

Kondisi diatas terlihat biasa saja bagi orang awam. Namun apabila kita amati lebih cermat, dan kita baca berbagai informasi di internet dan literatur yang ada tentang bagaimana pendidikan yang patut bagi anak usia dini, maka kita akan terkejut! Saat ini hampir sebagian besar penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak usia dini melakukan kesalahan. Di samping ketidak-patutan yang dilakukan oleh orang tua akibat ketidak-tahuannya!

Anak-anak yang digegas. Ada beberapa indikator untuk melihat berbagai ketidak-patutan terhadap anak. Diantaranya yang paling menonjol adalah orientasi pada kemampuan intelektual secara dini. Akibatnya bermunculanlah anak-anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa. Mereka dicoba untuk menjalani akselerasi dalam pendidikannya dengan memperoleh pengayaan kecakapan-kecakapan akademik di dalam dan di luar sekolah.

Kasus yang pernah dimuat tentang kisah seorang anak pintar karbitan ini terjadi pada tahun 1930, seperti yang dimuat majalah New Yorker. Terjadi pada seorang anak yang bernama William James Sidis, putra seorang psikiater.

Kecerdasan otaknya membuat anak itu segera masuk Harvard College walaupun usianya masih 11 tahun. Kecerdasannya dibidang matematika begitu mengesankan banyak orang. Prestasinya sebagai anak jenius menghiasi berbagai media masa. Namun apa yang terjadi kemudian? James Thurber seorang wartawan terkemuka pada suatu hari menemukan seorang pemulung mobil tua, yang tak lain adalah William James Sidis. Si anak ajaib yang begitu dibanggakan dan membuat orang banyak berdecak kagum pada beberapa waktu silam.

Kisah lain tentang kehebatan kognitif yang diberdayakan juga terjadi pada seorang anak perempuan bernama Edith. Terjadi pada tahun 1952, dimana seorang Ibu yang bemama Aaron Stern telah berhasil melakukan eksperimen menyiapkan lingkungan yang sangat menstimulasi perkembangan kognitif anaknya, sejak si anak masih berupa janin. Baru saja bayi itu lahir ibunya telah memperdengarkan suara musik klasik di telinga sang bayi. Kemudian diajak berbicara dengan mcnggunakan bahasa orang dewasa.

Setiap saat sang bayi dikenalkan kartu-kartu bergambar dan kosa kata baru. Hasilnya sungguh mencengangkan! Di usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna. Di usia 5 tahun Edith telah menyelesaikan membaca Ensiklopedi Britannica. Usia 9 tahun ia membaca enam buah buku dan koran New York Times setiap harinya. Usia 12 tahun dia masuk universitas.

Ketika usianya menginjak 15 tahun ia menjadi guru matematika di Michigan State University. Aaron Stem berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun khabar Edith selanjutnya juga tidak terdengar lagi ketika ia dewasa. Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa.

Berbeda dengan banyak kasus legendaris orang-orang terkenal yang berhasil mengguncang dunia dengan penemuannya. Di saat mereka kecil mereka hanyalah anak-anak biasa yang terkadang juga dilabel sebagai murid yang dungu. Seperti halnya Einstein yang mengalami kesulitan belajar hingga kelas 3 SD. Dia dicap sebagai anak bebal yang suka melamun.

Selama berpuluh-puluh tahun orang begitu yakin bahwa keberhasilan anak di masa depan sangat ditentukan oleh faktor kognitif. Otak memang memiliki kemampuan luar biasa yang tiada berhingga. Oleh karena itu banyak orangtua dan para pendidik tergoda untuk melakukan "Early Childhood Training". Era pemberdayaan otak mencapai masa keemasannya. Setiap orangtua dan pendidik berlomba-lomba menjadikan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang super.

Kurikulum pun dikemas dengan muatan 90 % bermuatan kognitif yang memfungsikan belahan otak kiri. Sementara fungsi belahan otak kanan hanya mendapat porsi 10% saja. Ketidak-seimbangan dalam memfungsikan ke dua belahan otak dalam proses pendidikan di sekolah sangat mencolok. Hal ini terjadi sekarang dimana-mana, di Indonesia.

Mengembalikan pendidikan pada hakikatnya untuk menjadikan manusia yang terang hati dan terang pikiran "good and smart" merupakan tugas kita bersama. Melakukan reformasi dalam pendidikan merupakan kerja keras yang mesti dilakukan secara serempak, antara sekolah dan masyarakat, khususnya antara guru dan orangtua.

Pendidikan yang ada sekarang ini banyak yang tidak berorientasi kepada kebutuhan anak sehingga tidak dapat memekarkan segala potensi yang dimiliki anak. Atau pun jika ada yang terjadi adalah ketidak-seimbangan yang cenderung memekarkan aspek kognitif dan mengabaikan faktor emosi.

Begitu juga orangtua. Mereka berkecenderungan melakukan training dini kepada anak. Mereka ingin anak-anak mereka menjadi "SUPERKIDS". "Inilah fenomena yang sedang trend akhir-akhir ini. Inilah juga awal dari lahirnya era anak-anak karbitan! Lihatlah nanti ketika anak-anak karbitan itu menjadi dewasa, maka mereka akan menjadi orang dewasa yang ke kanak-kanakan," kata Dewi Utama Faizah dsalam tulisannya.

28 April 2008

Sebagian besar orangtua di Indonesia merasa rikuh dan tidak mengerti kapan dan bagaimana harus memulai jawaban yang berkaitan dengan reproduksi. Padahal, berbagai studi sudah membuktikan bahwa banyaknya kasus perilaku seksual remaja yang menyimpang karena minimnya pengetahuan mereka tentang reproduksi.
Hal tersebut diakui salah seorang psikolog kenamaan Prof Dr Sarlito W Sarwono Psi. Menurutnya, ada beberapa faktor penghambat pendidikan seksual pada anak antara lain seks masih tabu dibicarakan secara terbuka, orangtua tidak mempunyai pengetahuan yang tepat, merasa malu dan jengah membicarakan seks dengan anak. Mereka berharap anak akan belajar dan tahu sendiri.

Anak pun menjadi lebih banyak mendapatkan informasi terhadap hal-hal yang berhubungan seksualitas melalui program televisi, video games atau internet, bahkan dari bacaan seperti majalah.

"Sementara orangtua dan sekolah tidak mengajarkan anak-anak yang berkaitan dengan pendidikan seksual," ujar Sarlito dalam artikel "Pendidikan Seks untuk Anak, Perlukah?" yang dirilis Dancow Parenting Center.

Padahal, pendidikan seks kepada anak-anak bukan mengajarkan cara-cara berhubungan seks, namun lebih kepada upaya memberikan pemahaman kepada anak, sesuai dengan usianya. Terutama mengenai fungsi-fungsi alat seksual dan masalah naluri alamiah yang mulai timbul, bimbingan mengenai pentingnya menjaga dan memelihara organ intim mereka, disamping juga memberikan pemahaman tentang perilaku risiko-risiko yang dapat terjadi seputar masalah seksual.

Sarlito menegaskan, adalah wajar bila anak-anak bertanya tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan seks karena seksualitas memang berkembang sejak masa bayi, anak-anak, remaja, sampai dewasa. Perkembangan seksual pun tidak hanya menyangkut perkembangan fisik (fisikoseksual), melainkan juga psikis (psikoseksual).

Sarlito mengungkapkan beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan oleh anak. Misalnya, anak berusia tiga tahun seringkali bertanya bagaimana ia lahir atau anak laki-laki berusia tiga tahun bertanya mengapa alat kelaminnya berbeda dengan adik perempuannya.

Kemudian saat anak berusia lima tahun, pertanyaannya juga akan berkembang cara berpikirnya. Beberapa pertanyaan yang biasanya dilontarkan anak usia lima sampai enam tahun, antara lain mengapa mama memiliki dada yang lebih besar dari papa atau mengapa mama perutnya bisa besar jika ada adik di dalamnya.

Sebaiknya pertanyaan tersebut dijawab sesuai dengan usia anak. Sayangnya, reaksi orangtua seringkali mengabaikan pertanyaan anak tersebut seperti pura-pura tidak mendengar atau mengalihkan pembicaraan.

Ada juga sebagian orangtua yang mengarang cerita untuk anak-anak seperti anak diantar burung bangau atau anak lahir dari pusar. Bahkan, tidak jarang anak dimarahi karena mengajukan pertanyaan semacam itu.

"Reaksi orangtua tersebut dapat mengakibatkan anak bertambah bingung atau semakin ingin tahu. Bisa jadi anak mencari sumber jawaban lain yang mungkin menyesatkan," tegas Sarlito.

Ahli Terapis Seksual dan Penulis buku Dr Ruth Talks to Kids: Where You Came From, How Your Body Changes, and What Sex Is All About Dr Ruth Wastheimer memberikan contoh yang dapat dilakukan orangtua saat menjawab pertanyaan anak-anak mengenai seks.

"Setelah melihat seorang anak perempuan berbeda dengan dirinya, Jimmy, seorang anak laki-laki, bertanya kepada ibunya. Setelah berbicara canggung selama 10 menit mengenai perbedaan anak laki-laki dan perempuan kemudian ibunya bertanya mengenai hal lain yang ingin diketahui Jimmy," jelasnya.

Namun Jimmy justru bertanya mengenai hal lain yang tidak berhubungan dengan seks. Memang pada kasus ini, lanjut Dr Ruth, ibu Jimmy menjelaskan lebih banyak dari yang Jimmy ingin tahu. Meskipun demikian, banyak ahli yang tidak mempermasalahkan hal tersebut karena Jimmy memiliki orangtua yang mau mendiskusikan secara jujur tentang seks.

14 April 2008

Dalam dunia yang ideal, orang tua mempunyai kesabaran, toleransi, pengertian, fleksibilitas dan energi yang tak terbatas dalam membimbing anak. Tapi tak ada seorang pun yang sempurna. Terkadang, seorang ayah harus belajar menjadi ayah yang baik seumur hidupnya. Berikut ini beberapa kesalahan umum yang dibuat seorang ayah ketika mendisiplinkan anak, seperti yang dikutip idi.

Membentak atau Berteriak.
Membentak mungkin cara yang efektif untuk membuat anak menurut, namun anak yang sering mendapat bentakan akan belajar bicara dengan nada serupa. anak akan tumbuh menjadi kasar. Tanya diri anda sendiri, sukakah anda dibentak? Ketika anda marah, usahakan jangan bertindak apa-apa dulu, ambil napas dan berjalan-jalan sebentar di teras. Lebih baik menyimpan teriakan anda hanya untuk keadaan darurat.

Menuntut Tindakan Segera.
Orang tidak akan merespon dengan baik perintah seperti “Cepat kerjakan!”, atau “Sekarang juga!” karena tidak menunjukkan penghargaan. Lebih baik jika anda meminta dengan halus tapi tegas.

Mengomel.
Omelan sering muncul dari mulut orang tua yang mencoba tetap sabar. Mereka tidak ingin marah tapi berusaha menuntut anak melakukan perintahnya. Lebih baik, anda memberi batasan waktu, beri peringatan jikan anak membandel, dan berikan hukuman jika anak tidak mengerjakan apa yang menjdi tugasnya. Misalnya, tidak boleh bermain game sebelum membereskan kamar tidurnya.

Menggurui.
Orang tidak begitu tertarik mendengar pembicaraan satu arah, tanpa interaksi. Menggurui anak kadang tidak menunjukkan permasalah sebenarnya. Misalnya, anak yang selalu telat mengerjakan PR malah diceramahi soal pentingnya pendidikan, bukan soal kegunaan mengerjakan PR dan keterlambatan anak mengerjakannya.

Memaksa.
Ini termasuk penggunaan tekanan fisik agar anak menurut. Misalnya, menyeret dia ke dokter gigi. Tanyakan kenapa dia menolak atau takut dan beri penjelasan kenapa dia harus menuruti anda. Ini akan membantu anak menjelaskan perasaannya.

Marah berlebihan.
Bereaksi atau marah berlebihan akan melukai perasaan anak dan membuatnya bingung. Jika anda terlanjur marah besar kepada anak, katakan maaf dan beri dia penjelasan. Dengan begitu, anak akan belajar tentang perasaan dan mengerti manusia bisa berbuat keliru.

Meremehkan atau memberi cap.
Tanpa sadar, orang tua sering meremehkan atau membuat malu anak. Tindakan ini dapat membuatnya kurang percaya diri dan merasa tidak aman. Contohnya, “Kamu ini sudah besar kok masih seperti bayi?” atau “Papa tidak akan pulang kalau kamu masih nakal”.
Hati-hati dengan kata-kata anda, usahakan selalu memberi peringatan positif. Memberi cap, gelar, atau panggilan buruk berdampak tak baik bagi anak. Jangan pernah memanggil anak dengan kata-kata seperti, “monyet”, “kurus”, “gendut”, atau “hitam”.

Menjebak.
Orangtua yang cenderung menghukum sering berusaha menangkap kebohongan anak dan menunjukkan buktinya dengan mencecar seperti pengacara di pengadilan. Lebih baik berkata langsung dengan bukti yang ada dan minta penjelasan.

Mencari Kambing Hitam.
Orangtua kadang menyalahkan anak atas situasi yang dialaminya. Contohnya, “Kenapa sih kamu selalu membuat papa marah?” atau “Papa bekerja keras untukmu, dan sekarang kamu …”Ini akan membuat anak merasa bertanggung jawab terhadap semua masalah di dunia ini.

Hukuman Fisik.
Mendisiplinkan anak tak mungkin diperoleh dengan hukuman fisik yang keras. Anak akan menjadi kasar dan tidak hormat. Hubungan ayah dan anak bisa rusak. Lebih baik anda merenung, apakah anda senang diperlakukan seperti itu sewaktu kecil?

12 April 2008

Anak merupakan suatu anugerah Tuhan yang sangat berharga sekali, sehingga anda ingin mereka dapat tumbuh serta berkembang secara sehat dan baik. Meski anak tidak mirip dengan anda, masih banyak yang bisa anda lakukan untuk menuntun dan membentuk temperamennya.

Pada masa batita merupakan tahap akhir dari pertumbuhan otak dan akan melambat sesudah usia 3 tahun. Masa ini merupakan waktu yang sangat potensial untuk mendorong perkembangan sifat positif dan memodifikasi hal yang bisa menimbulkan tantangan bagi pertumbuhan masa kanak-kanak yang sehat dan bahagia. Di masa ini anak akan lebih mudah menyalurkan ekspresinya pada usia 2 tahun daripada menghentikan pemberontakan di usia remaja.

Saat mengantar anak pertama kali masuk sekolah, anda mungkin mengamati berbagai tingkah laku anak yang diantar orangtua mereka. Ada yang terus memeluk paha ibunya karena tak mau ditinggal atau dengan mudahnya berpisah dari ibunya. Sesudah dicium, melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Berbagai jenis kepribadian anak dapat menimbulkan kekaguman dan mengherankan bagi para orang tua atau pengajarnya.

Mencintai anak apa adanya merupakan salah satu cara untuk membimbingnya. Orang tua sebaiknya memahami bahwa anak batita yang temperamennya sulit sebenarnya tidak bermaksud mengganggu. Temperamen bukan hasil bentukkan orang tua, jadi tidak bisa diperbaiki seluruhnya. Yang menentukan temperamen itu adalah bagaimana anda mengembangkan sifat aslinya dan merupakan pembentukan karakternya. Kekuatan anak bisa dikembangkan dan dibentuk, sementara kelemahannya bisa dikurangi atau bahkan disalurkan menjadi sifat-sifat konstruktif.

Orang tua memang bisa memodifikasi kecenderungan temperamental tertentu seperti pemarah dan agresif. Hanya dengan menamai sifat pemarah dan agresif ini sudah bisa mempengaruhi tingkah lakunya. Jika anak merasa bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan merengek dan menangis, maka dia akan terus mengingat teknik ini. Sebagai orang tua, anda dapat mengkondisikan anak dengan cara memberikan hukuman dan hadiah.

Jangan pernah menggunakan istilah yang tidak memuji perilaku anak, karena merupakan suatu pertanda anda belum menghargai temperamen anak. Memperhatikan kebutuhan anak akan selalu memberikan hasil yang lebih baik ketimbang mengacuhkannya. Jika anda merespon secara konsisten dan tepat pada anak yang sensitif, anda akan membangun rasa percaya serta kedekatan yang bisa membantunya berkembang. Kesampingkan ambisi anda terhadap anak dan sebaiknya doronglah keinginannya untuk membangun sehingga mereka lebih bahagia dan menikmati peran anda sebagai orang tuanya.

Hasil penelitian terhadap perkembangan temperamen menunjukkan, orangtua yang mendidik anaknya dengan memperlakukan anaknya sebagai teman, bisa membuatnya merasa frustasi setiap saat. Karena anak lebih menyukai berkumpul bersama teman yang seusia dengannya ketimbang bersama anda.

31 Maret 2008


Perkembangan kemajuan fisik seorang anak tentu akan sangat membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi tentunya anda pun mulai bertanya-tanya bila pertumbuhannya tidak seperti yang anda harapkan. Setiap anak itu memiliki tahap tumbuh kembang yang berbeda.

Sebagai orangtua anda tak perlu khawatir akan perkembangan si Kecil, sepanjang pertumbuhannya masih dalam batas yang wajar. Sebagai perbandingan, tak ada salahnya anda mengetahui tahap-tahap tumbuh kembang anak usia tiga tahun pertama. Sebab di usia inilah biasanya anak menunjukkan kemajuan yang berarti dalam kehidupannya. Di usia ini pula anak mulai menampakkan perkembangan fisik, intelektual, maupun kepribadiannya.

Usia 0 - 3 bulan

Hari-hari pertama kelahirannya merupakan masa penyesuaian bagi bayi. Lututnya pun masih sering tampak tertekuk, seperti ketika ia masih dalam kandungan. Di usia ini aktivitas sehari-harinya banyak diisi dengan tidur. Begitu menginjak usia enam minggu sampai usia tiga bulan, perkembangannya cukup berarti. Kaki sudah mulai lurus, dengan kepala sedikit terangkat. Ia mampu membalas senyum ter-hadap orang-orang di sekelilingnya. Tangannya sudah mampu menggenggam benda yang ada di tangannya.

Usia 3 - 6 bulan
Mulai usia 3 bulan, bayi sudah bisa mengangkat kepala sampai 90 derajat. Ia juga sudah pandai mengangkat dada. Benda apa saja yang dipegang cenderung dimasukkan ke dalam mulutnya. Jika diajak bermain, ia sudah bisa memberi respon, tertawa, menjerit dan sesekali berceloteh. Pada usia enam bulan, ia mampu berpindah dari posisi tengkurap ke posisi telentang. Sesekali tangannya menyangga tubuhnya, yang berada pada posisi setengah duduk. Gigi geligi su-dah mulai tumbuh, sehingga kemampuan mengunyahnya pun sudah mulai tampak.

Usia 6 - 12 bulan
Memasuki usia enam bulan, si kecil sudah bisa duduk tanpa dibantu. Ia pun sudah pandai tengkurap dan berbalik ke posisi telentang. Begitu memasuki usia sepuluh bulan, ia sudah bisa bertepuk tangan dan melambaikan tangan. Pada usia 12 bulan kakinya sudah mulai kuat menyangga tubuhnya untuk berjalan. Ia pun juga sudah bisa mengucapkan satu dua buah kata.

30 Maret 2008


Meski empeng bisa membantu kita menenangkan anak. Namun empeng dapat berdampak negatif jika si kecil terlanjur tergantung menggunakannya. Bagaimana caranya agar anak mau melupakan empeng miliknya?

Ada untung ruginya
Dalam buku What to Expect The Toddler Years karangan Arlene Eisenberg, Heidi E Murkoff dan Sandee E Hathaway, disebutkan mengenai perdebatan untung-rugi penggunaan empeng bagi anak. Beberapa penelitian menyebutkan, penggunaan empeng justru dianjurkan bagi bayi-bayi prematur maupun bayi-bayi yang kerap terserang kolik. Tujuannya, untuk menenangkan mereka.

Di sisi lain, penggunaan empeng dalam jangka panjang dapat merusak struktur mulut dan posisi gigi geligi bayi. Bahkan terkadang penggunaan empeng yang terlalu lama dapat menimbulkan masalah bagi kemampuan berbicara si kecil. Padahal, empeng merupakan alat yang sangat digemari para ibu untuk membantu menenangkan bayi mereka. Sehingga, tak sedikit ibu yang membeli empeng bagi anaknya. Apalagi, empeng maupun dot kini bentuknya dibuat sedemikian rupa disesuaikan struktur bentuk mulut anak. Namun, bagaimana sebaiknya?

Atasi jika berkelanjutan
Pada dasarnya pilihan untuk memakaikan empeng pada si kecil yang masih bayi sangat tergantung pada anda. Bagaimana pandangan anda terhadap pemakaian empeng ini pada anak, serta bentuk empeng seperti apa yang anda pilihkan baginya.

Namun mendekati usia anak yang kedua, sebaiknya ia tidak tergantung lagi pada empeng. Jika si kecil terlanjur tergantung pada empeng dan anda akan segera mengakhirinya, berikut ini beberapa cara yang dapat dicoba:

Ketergantungan anak pada empeng karena perasaan cemasnya
Karena cemas, ia mencari pelampiasan dengan cara mengempeng. Karenanya, cobalah memberi perhatian dan cinta yang cukup bagi si kecil. Hal ini akan membuatnya merasa nyaman dan aman bersama anda.

Cobalah mengalihkan perhatian anak dari empeng
Misalnya, dengan mengajaknya menyanyi, bercerita, bercanda atau pun bermain ketika anak teringat empeng nya.

Biasa anak mengatasi kondisi dengan empeng
Ketika anak merasa lapar atau lelah, ia biasanya mengatasinya dengan cara yang dikenal sebelumnya, yaitu mengempeng. Karenanya, hindari si kecil merasa lapar atau lelah.

Tegakan disiplin dengan konsisten
Katakan dengan tegas pada anak bahwa ia sudah terlalu besar untuk memakai empeng. Negosiasikan kapan ia mau melepaskan empeng . Kemudian, cobalah konsisten terhadap waktu yang telah ditetapkan anak sendiri bersama anda untuk tidak lagi mengempeng.

Anda berkesempatan mendorong si kecil melepas empeng saat empeng nya sobek atau rusak dan sudah waktunya dibuang. Tegaskan bahwa anda tidak membelikannya yang baru karena ia sudah cukup besar untuk terus menggunakan empeng. Jika cara ini yang dipakai, anda harus siap menggantinya dengan perhatian anda yang lebih besar. Atau, memberinya berbagai kegiatan agar si kecil cepat melupakan empeng nya.

27 Maret 2008

Pertengkaran anak-anak adalah hal yang lumrah terjadi bila anda memiliki lebih dari satu orang anak. Ada saja yang jadi bahan pertengkaran, mulai dari berebut mainan, berebut saluran TV, atau saling mencemooh.

Cara orangtua merespon pertengkaran anak akan mempengaruhi cara anak bersikap.
Pertengkaran anak sebaiknya disikapi secara positif. Mereka akan bisa belajar toleransi, tenggang rasa, maupun menghargai orang lain.

Dalam sebuah artikel, Psikolog anak, Seto Mulyadi mengungkapkan bahwa pertengkaran anak adalah proses belajar sosial bagi anak.
Seorang anak akan menjadi terbiasa menghadapi perbedaan pendapat, sehingga saat mereka dewasa dan masuk ke masyarakat, anak sudah punya bekal mengatasinya.

Bersikaplah objektif dalam menyikapinya. Mencari siapa yang salah dan siapa yang benar tidak akan menyelesaikan pertengkaran, bahkan membuat situasi makin buruk. Jika anda tidak terlalu ikut campur, anak-anak akan terbiasa memecahkan masalahnya sendiri.

Selanjutnya, biarkan dan perhatikan. Bila anak-anak yakin tak bakal ada orang yang membantu, biasanya mereka akan mulai melaksanakan negosiasi yang sebenarnya dan menemukan cara berkompromi. Solusi mereka mungkin tak seperti yang dipilihkan orangtua. Tapi, biasanya lebih memuaskan mereka dan akan ditepati secara sukarela. Pendekatan ini memperkenalkan tanggung jawab pada anak. Selain itu, mereka belajar keterampilan mengevaluasi alternatif, menyelesaikan masalah, berunding, dan berkompromi. Anak-anak belajar dari pengalaman mereka dan teknik ini mengajarkan mereka tentang perdamaian dan keadilan.

Jangan memihak. Jika anda membela anak yang lebih kecil dan memarahi kakaknya, maka si adik akan selalu meminta perlindungan dari anda. Sebaliknya, si kakak akan merasa sebagai si pembuat onar.

Jangan jadi wasit. ''Siapa yang duluan?'' Itu pertanyaan yang acap dilontarkan orangtua saat anak-anaknya berkelahi. Itu adalah salah satu penyelesaian terburuk. Sama saja dengan berusaha memutuskan pihak yang bersalah atau harus dipersalahkan.

Latih anak untuk mengutarakan perasaannya. Bila pertengkaran tak kunjung berhenti, ajak anak untuk menceritakan masalah menurut versi masing-masing. Setelah itu ajak mereka untuk mencari solusinya bersama. Berikan pujian jika mereka berhasil memecahkan masalah. Yang penting anak harus dididik untuk mengungkapkan perasaan dengan kata-kata.

Cegah cedera fisik. Pisahkan anak-anak yang berkelahi bila mereka sudah mulai ke arah kekerasan. Pisahkan keduanya pada tempat terpisah. Misalnya, si kakak di satu kursi, si adik di kursi lain di sudut ruangan.
Kalau perlu berilah hukuman. Jika anak sudah saling memukul, segera hentikan, dan suruh untuk saling minta maaf. Jika mereka melakukannya lagi, berikan hukuman seperti tidak boleh nonton film kesukaannya atau tidak boleh bermain di luar bersama teman-temannya

Perlu diingat bahwa penyelesaian pertengkaran sebaiknya dilakukan secara tuntas. Dendam anak yang dibawa hingga dewasa, terjadi akibat orangtua tidak menyelesaikan masalah secara tuntas.


Jika anda masih ragu memposisikan diri untuk pro atau tidak terhadap aborsi, mungkin pengalaman Silvi Anhar yang pernah menonton film dokumenter tentang proses aborsi, akan membantu anda untuk mengatakan 'tidak' pada aborsi.

Film pun diputar. Diawali dengan cerita tentang praktek aborsi yang dilakukan oleh seorang dokter muda cerdas, di sebuah negara yang amat maju.

Sudah hampir seribu kali, dokter muda ini melakukan praktek aborsi. Lalu si pembawa acara memperkenalkan satu persatu alat-alat kedokteran yang digunakan untuk melakukan aborsi dan menjelaskan fungsi setiap alat aborsi tersebut.

Alat pertama fungsinya untuk membuka mulut vagina, lalu digunakan alat lain untuk menahan pembukaan tersebut. Kemudian, alat untuk mencari posisi janin dimasukkan ke rahim. Ketika janin didapat, maka langsung dihabiskan, dihancurkan.

Namun ada bagian janin yang susah keluar yaitu kepala. Alat seperti penghancur kenari pun dimasukkan lagi kedalam rahim untuk mencari kepala janin tersebut. Setelah ketemu lalu "trek" dalam sekejap, maka hancurlah kepala itu.

Selanjutnya adalah proses penyedotan, yang menggunakan alat seperti penyedot WC.

Setelah itu, selesailah acara peng-aborsian terhadap janin. Pembawa acara tersebut melanjutkan, dengan sebuah pertanyaan. "Apakah kita pernah berpikir, saat akan dibunuh janin itu akan diam saja?"

Untuk membuktikannya, mereka mencoba melihat proses pengaborsian itu melalui USG, yang ditampilkan di layar monitor. Pertama diperlihatkan posisi janin dan diperdengarkan detak jantungnya. Sebelum proses aborsi berlangsung, posisi dan detak jantung janin terlihat normal.

Ketika ada alat yang mulai mencari-cari posisi janin, maka secara reflek janin tersebut mengubah posisinya atau mencoba menghindari alat asing tersebut. Hal tersebut disertai dengan detak jantungnya yang semakin keras. Semakin gencar alat penghancur janin itu mencari-cari janin itu, semakin cepat gerak janin itu untuk menghindar dan semakin cepat detak jantungnya.

Karena keterbatasan ruang rahim, maka akhirnya tertangkaplah tubuh janin tersebut dan hancurlah tubuh kecil tak berdaya tersebut. Seketika itu detak jantung janin pun langsung lenyap. Begitu juga saat alat penghancur kepala masuk, dalam hitungan detik kepala janin tersebut langsung hancur remuk. Setelah itu semuanya terlihat langsung gelap.

Ternyata, mahluk kecil yang bernama janin itu, memiliki rasa takut. Seandainya janin bisa bicara, mungkin akan berteriak minta tolong dan berkata "aku punya hak untuk hidup".

Setelah menyaksikan hal itu, para dokter muda dan perawat yang membantu proses aborsi itu tersadar kalau mereka telah melakukan pembunuhan terencana. Sejak detik itu, sang dokter yang sedang melakukan aborsi, segera menyudahi pekerjaannya.
Dokter dan para perawat yang melihat langsung reaksi janin lewat layar USG, memutuskan untuk tidak pernah lagi melakukan praktek aborsi.

Film dilanjutkan, bercerita tentang akibat melakukan aborsi. Jika proses aborsi tidak bersih, maka akan bisa menimbulkan tumor atau kanker rahim. Bahkan di beberapa kasus, rahim pun ikut terangkat, membuat perempuan semakin menderita.
Film pun selesai. Tapi, sampai saat ini masih terjadi perdebatan di kalangan para ahli medis mengenai usia kandungan yang pantas untuk melakukan proses aborsi, jika memang proses kehamilan tersebut berpotensi membahayakan nyawa calon ibu. Bagaimana dengan anda?

05 Februari 2008

Kiat-kiat dibawah ini mungkin berguna bagi anda :

1. Sesering mungkin membawa anak ke perpustakaan. Umumnya anak-anak menyukai perpustakaan, mereka akan berlarian kesana kemari mengitari lorong-lorong diantara rak-rak buku serta melihat pajangan yang berwarna warni dan juga buku-buku yang bergambar yang tentu sangat menakjubkan bagi mereka.Dengan seringnya mereka dengan suasana seperti ini lambat laun minat baca anak akan tumbuh.

2. Ajaklah anak anda ke toko buku sesering mungkin Biarkanlah mereka memilih buku yang mereka senangi. Anak tidak harus membeli semua buku di toko, belikan mereka sebuah buku tidak perlu mahal. Nanti mereka akan sadar sendiri bahwa anda tidak hanya mengeluarkan uang setiap harinya untuk membeli roti dan susu saja akan tetapi juga secara rutin mengeluarkan uang untuk membeli buku.

3. Belilah sebanyak mungkin buku-buku bergambar di bursa buku murah atau di pasar loak. Kumpulkan dan penuhilah rak buku rumah anda dengan membeli buku di bursa buku murah tersebut. Biarkanlah sesekali anak anda menggunting atau membuat rumah-rumahan dari buku tersebut atau yang paling baik tentu dengan membacanya.

4. Jadikanlah saat membaca cerita saat yang menyenangkandan mengesankan bagi anak anda. Bacakanlah buku apapun yang diinginkan anak anda. Mungkin anda akan menjerit karena harus membacakan cerita itu lagi berulang-ulang. Yang terpenting disini adalah mereka menyadari bahwa anda menghormati selera mereka dan mereka sendiri menikmati pembacaaan itu.

5. Sisihkan lebih banyak uang untuk membeli buku daripada membeli Video kartun Disney kegemaran anak anda.

6. Bila anak anda tidak menikmati aktivitas awal membaca maka berhentilah. Mungkin ini terlalu dini bagi anak anda. Jika anak anda masih suka bermain Lumpur dihalaman, bekerjasama dengan temannya membuat terowongan china misalnya atau membuat rel dan kereta api, biarkan saja mereka melakukanya yang terpenting disini bagi anda adalah menyediakan buku-buku yang menarik yang ada hubungannya dengan permainan yang mereka sukai. Cepat atau lambat dengan cara seperti ini minat baca anak akan tumbuh dengan sendirinya.

7. Bersikaplah antusias dalam upaya awal mengajak anak anda membaca. Pujian merupakan senjata yang sangat ampuh. - katakan kepada anak betapa hebatnya ia ketika ia mulai membaca. - bahwa anda senang mendengar ia membaca. - ajarkan kepada mereka bagaimana melafalkan kata apapun yang mereka tanyakan kepada anda ,akan tetapi jangan bersikap berlebihan seperti menyebutkan 50% kata yang mereka tidak tahu bahwa kata-kata ini mereka lafalkan dengan keliru.Pusatkan pada hal yang mereka lakukan dengan benar. Mereka toh sedang belajar membaca.

8. Memilih sekolah taman kanak-kanak Jangan memilih Sekolah taman kanak-kanan semata-mata karena skolah tersebut mengajarkan membaca kepada muridnya. Karena kreteria sekolah taman kanak-kanak adalah sebuah tempat yang menyenangkan, hangat dan rileks. Bila sekolah tersebut mengajarkan pelajaran awal membaca boleh-boleh saja, tetapi tidak harus. Sekolah yang terlalu banyak memaksa anak belajar membaca, sedangkan mereka belum siap, ini tidak hanya membuat anak-anak membeci sekolah tetapi mereka juga akan membenci aktivitas membaca.

Semua orang tua pasti ingin anaknya suka belajar, tapi bagaimana caranya? Membuat anak suka belajar memang gampang-gampang susah, namun berikut ini 5 kiat yang efektif untuk diterapkan:

Pertama
Suasana yang menyenangkan adalah syarat mutlak yang diperlukan supaya anak suka belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan.

Kedua
Membuat anak senang belajar adalah jauh lebih penting daripada menuntut anak mau belajar supaya menjadi juara atau mencapai prestasi tertentu. Anak yang punya prestasi tapi diperoleh dengan terpaksa tidak akan bertahan lama. Anak yang bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan akan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan sangat mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang.

Ketiga
Kenali tipe dominan cara belajar anak, apakah tipe Auditory (anak mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan), Visual (melihat) ataukah Kinesthetic (fisik). Meminta anak secara terus menerus belajar dengan cara yang tidak sesuai dengan tipe cara belajar anak nantinya akan membuat anak tidak mampu secara maksimal menyerap isi pelajaran, sehingga anak tidak berkembang dengan maksimal.

Keempat

Belajar dengan jeda waktu istirahat setiap 20 menit akan jauh lebih efektif daripada belajar langsung 1 jam tanpa istirahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak mampu melakukan konsentrasi penuh paling lama 20 menit. Lebih dari itu anak akan mulai menurun daya konsentrasinya. Jeda waktu istirahat 1-2 menit akan mengembalikan daya konsentrasi anak kembali seperti semula.

Kelima
Anak pada dasarnya mempunyai naluri ingin mempelajari segala hal yang ada di sekitarnya. Anak akan menjadi sangat antusias dan semangat untuk belajar jika isi atau materi yang dipelajari anak sesuai dengan perkembangan anak. Anak akan menjadi mudah bosan jika yang dipelajari terlalu mudah baginya, dan sebaliknya anak akan menjadi stres dan patah semangat jika yang dipelajari terlalu sulit.

Kuncinya adalah mengenali keunikan anak anda. Jika anda sudah tahu apa saja yang dapat memotivasi dia, maka tidak akan sulit untuk membuatnya menyukai belajar. Kenalilah minatnya, kembangkan itu dengan mengarahkannya secara lebih terfokus. Hal yang perlu diingat adalah, setiap anak mempunyai perbedaan-perbedaan dan keunikannya masing-masing, tugas kita sebagai orang tua adalah mengenalinya dan mengasahnya. Selain itu, jadilah teladan yang baik bagi mereka, jika mereka melihat bahwa orang tuanya juga antusias dalam mempelajari hal-hal baru, maka pasti mereka akan terpengaruh. Peran anda sangat kuat sebagai orang tua, karena mereka menjadikan anda sebagai panutan.

1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan.

2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.

3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut saja.

4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia melepaskannya.

5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu hanya untuk kaumwanita.

6. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal- hal ini.

7. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.

8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur'an dan buku- buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur'an dengan tafsirnya, hadits-hadits Nabi n dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa mencintai dan menela-dani mereka. Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy'ariyah, Mu'tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid'ah lainnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang banyak ber-kembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.

9. Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan jiwa.

10. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair- syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.

11. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagia- kannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan disebar-kan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang dilakukannya tidak baik.

12. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi, sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh lagi dengan kemarahan.

13. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam ber-komunikasi dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan dari ayah.

14. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan dan melemahnya kondisi badan.

15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak.

16. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan bahwa itu tidak baik.

17. Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah (atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa menyi-bukkan diri dengan kegiatan itu.

18. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak (berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri.

19. Melarangnya dari membangga-kan apa yang dimiliki orang tuanya, pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia ber-sikap tawadhu', lemah lembut dan menghormati temannya.

20. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan, melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.

21. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu adalah perbuatan mulia dan terhormat.

22. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap.

23. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak. Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam.

24. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau dzikir kepada Allah.

25. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.

26. Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang- orang yang suka melakukan hal itu.

27. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.

28. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar, membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.

29. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah- perintah.

30. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru, pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).

Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa tamyiz hingga masa-masa menjelang baligh. Uraian di atas adalah ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi pendidikan anak perempuan.

WaAllahu ta'ala a'lam. Syeikh Muhammad Soleh Uthaimin